Prolog from Writer:
Anjer, judulnya kayak sinetron aja. Tapi persetan dengan itu.
Tapi, ente tau gak arti Wibu itu? Ane juga kagak :v.
Yang ane tau, Wibu itu istilah untuk penyuka jejepangan tetapi berlebihan. Ane pun gak tau itu salah apa bener.
Kalau psikopat, ente bisa nyari sendiri disini.
Intinya, cerita ini fiksi. Ingat, FIKSI!. Gak ada maksud menyudutkan pihak manapun. Jika ente tersindir, itu salah ente!

Namaku Sarwan. Orang-orang disekitarku mengejekku dengan nama "sariawan". Dan aku membenci itu.
Aku punya teman, nama aslinya Narto. Tetapi sejak dia jadi wibu, dia mengubah namanya jadi Naruto.
Hebatnya lagi, kami bertetangga, dan aku muak dengannya. Siang malam dia nonton anime. Masalahnya dia itu kalau sudah opening song atau ending song, berisiknya luar biasa, seakan-akan dia hapal, padahal kagak!
Sesuai namanya, dia suka nonton Naruto, padahal Naruto sudah tamat. Aku juga heran, siapa tau dia masang flashdisk berisikan full episode plus full movie dari si Naruto itu.
Setiap kali aku bertemu dengannya, dia selalu bilang "Konnichiwa, sarewan kun!"
Sumpah! Aku bener-bener pengen muntah saat dia mengucapkan hal itu. Aku lebih suka dipanggil 'sariawan' daripada kayak gitu.
"Wibu lo!" jawabku.
Hal itu setiap hari terjadi, dan lama-kelamaan dia jadi psikopat.
Di kampungku, gak ada orang yang gak dijambret ama dia. Lucunya, polisi tidak menangkapnya sama sekali. Dia cuman babak belur.
Dan kalian harus percaya, uang hasil jambretannya itu gak diketahui orangtuanya sendiri!
Dipakainya kemana? Ke kustom Naruto!
"Anjer, gak guna banget," kataku.
Suatu hari, dia mulai menjadi-jadi. Make kagebunshin tapi gak bisa, wal hasil dia pun membuat rasengan dari bola sepak takraw.
Masalahnya aku yang diincer sama dia, akhirnya rasengan gadungan itu kena kepalaku, dan aku masuk rumah sakit.
Setelah aku keluar dari rumah sakit, dia tidak ada lagi. Ternyata dia ditangkap polisi, atas percobaan pembunuhan, bukan penjambretan.
TAMAT

Pesan moral:
Jangan menyukai sesuatu berlebihan.

Epilog from Writer:
Cerpen ini adalah request dari Agung Laksana. Sebenarnya dia sudah lama merequest cerita ini, tapi baru sekarang aku membuatkannya.
Maka aku menyatakan maaf, atas lambatnya pembuatan dari cerpen ini, dan jika cerpen ini tidak sesuai dengan keinginannya. Terimakasih.